Apakah Kita Menjalani Hubungan Yang Memiliki “Masa Depan”?
Apakah Kita Menjalani Hubungan Yang Memiliki “Masa Depan”?
Rate this post

APAKAH kita sudah menemukan di si Mr. Right… atau jangan-jangan kita hanya membuang waktu kita? Tujuh hal ini bisa jadi patokan, apakah dia bisa jadi pasangan hidup kita kelak.

1. Setara dan berbagi
Sebuah hubungan yang sehat adalah sama dan berbagi . Kita tidak harus merasa ada keharusan untuk melakukan ini dan itu untuk pasangan agar dia mau melakukan hal-hal yang baik bagi kita. Dia juga harus merasa nyaman dalam proses memberi dan menerima—tanpa merasa “membeli” atau “terbeli”, karena kelak saat menikah dan hidup bersama ada banyak hal yang perlu kita bagi dengan pasangan. Kedua pihak harus sama-sama rela berbagi dalam banyak hal, sama-sama bekerja keras, menjaga banyak hal bersama-sama dan merasa nyaman dengan satu sama lain.

2. Hal-hal kecil
Setiap hubungan yang berhasil bukan hanya karena telah melampaui hal-hal besar bersama-sama, namun juga hal-hal kecil—yang nyatanya justruu terasa sering mengganggu. Misalnya, apakah kita bisa mentolerir cara makannya yang menurut kita terlalu berisik, cara berpakaiannya yang sering asal dan kusut, cara dia menyimpan barang-barang. Atau mengingatnya saja sudah membuat kia kesal dan tidak yakin kelak dapat hidup bersamanya?

3. Keinginan Untuk tetap Bersama
Jika kita dan pasangan telah bersama-sama selama bertahun-tahun, namun dorongan untuk terus bersama tetap ada, maka hubungan ini bisa dibilang memiliki masa depan Tekad untuk menjadi satu sama lain selalu menjadi bagian paling penting dalam kepastian masa depan hubungan .

4. Komunikasi terbuka

Kita tidak dapat memiliki hubungan jika kita tidak dapat berkomunikasi satu sama lain. Salah satu hal paling penting untuk diingat adalah bahwa masa depan kita dengan orang ini adalah dengan menerima dia sebagai dia. Kita tidak akan bisa mengubahnya. Karena itu , pastikan bahwa dia adalah seseorang yang kita percaya secara terbuka. Jika kita tidak dapat menceritakan segala sesuatu yang ada di pikiran kita, maka dia tidak mungkin bukan the one.

5. Berpikir mirip
Jika ingin memiliki masa depan bersama-sama , ada baiknya bagi kita dan pasangan untuk berpikir sama . Tentu saja bukan berarti harus setuju dengan segala sesuatu sepanjang waktu (bayangkan, betapa membosankan!), melainkan milikilah tujuan yang sama . Apakah kita akan menikah—bagaimana pernikahan itu akan dilakukan? Apakah kita akan mencicil rumah atau apartemen? Apakah kelak ketika menikah akan menunda memiliki anak atau sebaliknya? Pandangan yang sama dibutuhkan untuk suatu kelanggengan masa depan bersama.

6. Manajemen Jarak
Salah satu cara yang paling penting untuk mengetahui apakah hubungan kita memiliki masa depan adalah ketika terpisah dari satu sama lain . Mampu menjadi terpisah nyaman adalah kuncinya. Apakah kita tetap bisa saling mempercayai? Apakah berjauhan dengan pasangan justru membuat kita merasa lebih bahagia? Hubungan yang sehat adalah ketika kita tetap merasa aman saat berjauhan, nyaman saat berdekatan—dan tidak memiliki ketergantungan yang membuat kita menjadi disfungsi ketika terpisah sesaat.

7. Berdebat sehat
Jika kita dan pasangan tidak pernah memiliki argumen, maka kita perlu mengevaluasi kembali hubungan yang sedang kita jalani. Setiap pasangan berdebat—dan itu sehat. Apabila hubungan sunyi dari argumentasi, bisa jadi salah satu pihak menekan ego terlalu keras atau memaksa pasangan untuk tidak memiliki opini sama sekali. Ingat, hal-hal ini justru bisa menjadi pemicu konflik yang lebih besar nantinya.

a tip of the iceberg
Dinda di Mana : Dilema Perempuan & Transportasi Umum
5 (100%) 1 vote

MINGGU lalu jagat media sosial nasional dikejutkan oleh celotehan seorang perempuan bernama Dinda di Path yang menghujat hak prioritas tempat duduk di layanan kereta api listrik Commuter Line bagi perempuan hamil. Makian yang di-capture dan disebarkan lagi melalui media sosial lain seperti Facebook dan Twitter tak pelak mengundang reaksi keras. Berbagai hujatan ditujukan kepada Dinda, seakan tidak percaya ada seorang perempuan yang tidak punya empati terhadap sesamanya–terutama kepada mereka yang sedang hamil.

Tidak Peduli Atau?
Namun mungkin banyak yang tidak menyadari kalau “kasus Dinda” hanyalah a tip of the iceberg –-ujung kecil dari masalah yang lebih besar. Buat para perempuan penumpang Commuter Line yang menggunakan gerbong khusus perempuan, setiap hari mereka harus bertarung dengan puluhan “Dinda” yang siap sikut demi memperebutkan bangku kosong, tak perduli sang “lawan” dalam kondisi hamil, cacat, atau berusia lanjut. Gerbong khusus yang ditujukan untuk menjaga penumpang perempuan dari tindak kejahatan dan pelecehan belakangan malah sering menjadi “rimba” bagi penggunanya. Siapa yang kuat, dia yang dapat (tempat duduk).

Irma (28 tahun) seorang karyawati yang kerap menggunakan Commuter Line jalur Bogor-Jatinegara untuk mencapai kantornya di bilangan Sudirman, mengaku kapok masuk gerbong khusus perempuan. Bukannya mendapat prioritas, perempuan yang sedang mengandung 5 bulan ini malah sering mendapat perlakuan tidak simpatik dari sesama penumpang perempuan.

“Masalah sebenarnya sih karena tidak ada beban moral” ujarnya ketika ditemui menunggu kereta tumpangannya di Stasiun Pondok Cina. “Kalau di gerbong umum, laki-laki yang melihat perempuan hamil atau manula berdiri, biasanya terusik, dan suka nggak suka akan memberikan tempat duduk. Kalaupun ada yang berlagak tidur pasti ditegur penumpang lainnya. Lain halnya di gerbong yang semua isinya perempuan. Mereka sering terang-terangan menolak memberi tempat duduk karena merasa sama-sama perempuan” Dalam kondisi hamil seperti sekarang Irma mengaku jarang mendapat tempat duduk di gerbong perempuan. “Susah banget. Pernah saya minta tempat duduk dengan sopan kepada seorang ibu, malah ditolak. Bahkan dimaki dengan kasar.” Ia menambahkan hal ini tidak hanya terjadi di Commuter Line tapi juga transportasi umum lain seperti Transjakarta.

Komentar lebih keras disampaikan Santi (32 tahun) yang ditemui di stasiun yang sama. “Gerbong perempuan itu nggak ada gunanya selama sesama perempuan masih egois!” katanya tegas. Ia mengaku entah berapa kali ia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari sesama penumpang perempuan. “Di gerbong umum rasanya lebih baik walau harus berhimpitan dengan lelaki. Sedang di gerbong perempuan, ibu hamil yang terjungkal karena tak dapat tempat duduk bukan hal aneh. Penumpang perempuan yang pingsan tapi nggak ditolong juga sering (terjadi). Mereka yang kasar pada satu sama lain bukan hanya (perempuan) yang muda, tapi juga yang tua. Malah petugas keamanan yang ada di gerbong juga sering takut untuk bertindak.” imbuhnya

Cerminan Kita?
Ketika ditanya apakan akar dari masalah ini adalah kurangnya empati terhadap sesama perempuan, keduanya tidak bisa member jawaban yang pasti. “Mungkin ya? Karena dulu saya juga malas memberi tempat duduk kepada orang lain, walaupun dia hamil atau orang tua sekalipun. Kayaknya sekarang saya kena karma.” kata Irma. Sedang Santi mengatakan kecenderungan ini mungkin tergantung dari lingkungan masing-masing. “Banyak perempuan yang dididik bahwa mereka harus mendapat prioritas, dan ketika dipertemukan dengan sesama perempuan ya jadinya, cakar-cakaran, hahaha.” Namun ketika ditanya apakah bila fasilitas untuk perempuan diperbaiki, kondisi carut-marut ini bisa berakhir, jawaban mereka nyaris seragam: “Bisa jadi. Tapi (saya) nggak yakin sih.”

Gerbong atau bagian khusus yang ada di berbagai kendaraan umum untuk memberikan kenyamanan kepada kaum perempuan memang harus diakui masih jauh dari layak, staf yang bertugas kadang kurang berani bersikap tegas—dan banyak kondisi yang jauh dari ideal lainnya. namun sebaik apapun fasilitas yang bisa diberikan rasanya akan menjadi percuma bila tidak dimanfaatkan dengan bijak dan penggunanya tidak bisa mengatasi ego masing-masing. Bila dulu Katon Bagaskara pernah bertanya dalam nyanyian “Dinda di mana?” dalam kasus ini ternyata “Dinda” ada dimana-mana. Bahkan bukan tidak mungkin salah satunya adalah kita sendiri. Sad but true.

Sayang, Baikan Yuk!
Sayang, Baikan Yuk!
5 (100%) 2 votes

TAK bersemangat kerja, sulit konsentrasi, juga sering melamun, adalah beberapa dampak yang bisa terjadi akibat bertengkar dengan pasangan. Sebaiknya cepat-cepat berbaikan deh!

Pergi Sejenak
Saat berbeda pendapat dengan pasangan, wajar kalau kita merasakan nggak nyaman, marah, kesal, ataupun kecewa. Dalam kondisi seperti ini biasanya kita nggak merasa pantas meminta maaf. “Dia yang salah kok, bukan saya!” adalah kalimat yang ada di benak kita … dan dia. Nah, kalau menuruti ego masing-masing dan enggan mengakui kesalahan, maka sulit menemukan jalan tengah. Jika memang kita merasa sangat emosional, pergilah berjalan-jalan ke taman atau sekadar menghirup udara segar di luar. Dengan cara ini, pikiran kita akan lebih cepat rileks.

Segera Minta Maaf
Biasakan untuk TIDAK membuat skor antara kita dan pasangan. Meminta maaf bukan berarti kita kalah skor dari dirinya. Lakukan hal yang terbaik bagi kelangsungan hubungan kalian. Kalaupun kita yakin 100% bahwa si dia yang salah, kita bisa meminta maaf karena bersikap emosional dan tidak langsung memaklumi dirinya. Nyatakan secara lembut kalau kita keberatan dengan apa yang telah dia lakukan atau apa yang telah terjadi.

Ajak Pasangan Tertawa
Tertawa adalah salah satu cara yang paling efektif untuk mencairkan suasana dan membuat suasana hati menjadi rileks. Ceritakan hal-hal konyol yang kita alami seharian, atau ingatkan si dia tentang pengalaman lucu yang pernah kalian lalui bersama. Dengan kekonyolan tersebut, emosi pasangan akan mulai surut.

Buka Topik Baru
Supaya masalah yang baru terjadi nggak terus menerus mengganggu pikiran kita dan si dia, lakukan trik ‘pengalihan isu’ dengan cara membuka topik pembicaraan yang baru. Kita bisa mengomentari berita yang baru kita baca atau infotainment yang barusan ditonton.

Bersikap Mesra
Setelah meminta maaf, kondisi kita dan pasangan sudah lebih rileks, yakinkan bahwa konflik yang baru terjadi tidak mengurangi rasa cinta di antara kalian. Berpelukan dan mengucapkan “I love you” akan menjadi langkah yang baik. Lagipula, siapa sih yang nggak suka happy ending berupa kiss and make up setelah bertengakar?

cemburu pada mantan
Stop cemburu pada mantan
5 (100%) 3 votes

CEMBURU mungkin merupakan bumbu dalam relationship, tapi mencemburui mantan kekasih dari pasangan kita sesungguhnya nggak perlu dan hanya bikin lelah.

Semua punya masa lalu
Rasa cemburu pada mantan dari pasangan kita biasanya muncul saat kita memikirkan berbagai hal yang pernah mereka miliki dalam hubungan mereka dahulu. Padahal, semua hal-hal itu terjadi di masa lalu. Sadari bahwa apa yang terjadi di masa lalu itu sudah lewat, dan masa lalu si dia lah yang telah mengantarnya sampai ke pelukan kita saat ini. Lagipula, kita juga punya masa lalu, kan?

Berhenti membandingkan diri
Pemicu lainnya kecemburuan terhadap mantan dari pasangan kita adalah sikap membanding-bandingkan diri. Minder karena mantan terdahulu lebih cantik atau sombong karena kita punya karier lebih gemilang ketimbang sang mantan—keduanya adalah perilaku yang tidak perlu. Semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Be confident of who you are, and have respect to what others have!

Hubungan baik itu perlu
“Mantannya masih sering berkomentar di Path pacarku, gerah deh melihatnya! Udah jadi mantan kok masih caper aja?!” ungkap Reni (26). Kecemburuan memang bisa timbul saat kita melihat pasangan kita masih akrab dengan sang mantan. Mungkin kita berharap pasangan sudah nggak punya hubungan dalam bentuk apa pun dengan mantannya. Well, pandangan seperti ini patut kita ubah. Nggak ada salahnya kok pasangan kita masih menjalin hubungan baik dengan mantannya. Hal seperti itu justru bisa menunjukkan tingkat kedewasaan pasangan (dan sang mantan) dalam mengelola emosi dan mengatasi masalah yang pernah terjadi di antara mereka.

Fokus pada hubungan kita
Daripada sibuk memikirkan hubungan si dia dengan mantannya, lebih baik dan lebih penting untuk fokus pada hubungan kita: nikmati kebersamaan dengan pasangan, bangun komunikasi yang jujur dan kepercayaan satu sama lain, juga saling menujukkan perhatian. Hal-hal ini bukan hanya efektif menyembuhkan rasa cemburu, tapi juga memperkuat relationship kita dan pasangan. Dia pun tak akan mudah tergoda untuk kembali ke mantan kalau hubungan kita harmonis, right?

Miliki kepercayaan diri yang solidStop cemburu pada mantan

Jangan pernah merasa kalau diri kita hanya lengkap dengan adanya pasangan di sisi kita. Perasaan insecure seperti ini bakal terus menggerogoti hidup kita. Tanamkan kepercayaan diri yang solid, sehingga apa pun yang terjadi dalam hubungan kita (termasuk bila pasangan akhirnya kembali ke pelukan mantannya, atau hubungan putus karena alasan lain), tak membuat kita merasa nggak berharga lagi. Jika kita sudah memiliki kepercayaan diri yang solid, niscaya kecemburuan terhadap sang mantan ataupun wanita lain bisa diredam.